Friday, August 08, 2008

Hape Adalah Segala-galanya

Rubrik: Resensi Buku

Data Buku
Judul : Kartun Benny & Mice
Talk about Hape
Penulis/kartunis : Benny Rahmadi dan Muhammad Misrad
Penerbit : Nalar
Cetakan : I, Maret 2008
Tebal : vi + 106


Oleh: Darminto M. Sudarmo

Manusia modern tanpa hape? Ia bisa celingukan seperti orang hilang. Seperti orang buta di tengah kota; seperti orang bisu tuli di keramaian lalu lintas gossip dan wacana. Jadi? Ya, rugi banget, gitu. Setidaknya itu sebagian topik yang disinggung Benny dan Misrad dalam bukunya Kartun Benny & Mice: Talk about Hape. Buku gress yang muncul setelah serangkaian seri buku-buku yang lain dengan fokus perhatian pada gaya hidup manusia metropolis.
Seperti buku-buku kartun sebelumnya, Benny dan Misrad selalu memiliki sudut pandang melihat persoalan secara nakal, jeli dan kocak. Mereka mendekati persoalan dengan cara yang beda; penuh gelitik, kadang kurang ajar sedikit, kadang sirik banget, tetapi sesekali mereka juga cukup sportif dan tidak pandang bulu: menertawakan ketololan dan kesialan diri (tokoh Benny dan Mice). Dengan kata lain, bila Anda menyimak dengan seksama, selain mendapatkan hiburan yang cukup oke, Anda juga diajak mencermati situasi psikologis yang terdapat pada perilaku manusia-manusia modern. Ada yang jadi bulan-bulanan iklan, ada yang demen show, ada pula yang lupa prioritas, sehingga anggaran untuk hape dan pulsa seakan segala-galanya. Seakan tak ada yang lebih penting di dunia ini selain urusan yang itu-itu juga.
Padahal nih, orang modern konon merasa belum lengkap jika belum memiliki: pekerjaan/jabatan, tempat tinggal (rumah), kendaraan, rekening bank, asuransi dan hobi. Tetapi dengan datangnya hape (yang notabene masuk klasifikasi hobi dan pekerjaan), asal itu paling mahal dan paling canggih, maka tidak memiliki yang lain, tidak apa-apa. Kalau perlu, tiap minggu ganti yang lebih baru. Dengan begitu, si empunya hape akan merasa sebagai manusia modern yang up to date.

Pengguna Hape
Siapa pengguna hape? Menurut dua kartunis ini, mereka bisa dari anak-anak (TK, SD), remaja, psk (callgirl), pembantu, eksekutif, bencong, ibu rumah tangga, mahasiswi, preman, kakek-kakek genit, penjahat, hingga penjual sayur keliling. Semua ber-hape-ria. Jadi tidak keliru bila dikatakan: hape memang untuk semua.
Dengan alasan masing-masing pula, para pengguna hape bertingkah laku. Bayangkan bila di dekat Anda ada seorang laki-laki yang dari penampilan dan pakaiannya bisa ditebak profesi atau bisnisnya, tetapi ketika ia ngomong di hape, seakan dia adalah saudagar besar, karena angka-angka transfer bank yang disebutkan tampak atraktif dan serba puluhan juta. Apa boleh buat, orang-orang seperti mereka memang banyak bertebaran di sekitar kita. Tetapi ada pula kisah mengenaskan, sudah capek-capek beli hape kelas triji (3-G), semalem ditunggu sampai tidak dapat tidur, tidak juga ada orang yang nelepon.
Mungkin bukan sesuatu yang berlebihan bila pebisnis sibuk memang memerlukan hape canggih dan lengkap fitur untuk keperluan pekerjaannya. Misalnya dia harus memantau pergerakan bursa saham, lalu lintas transaksi perusahaan yang dipimpinnya. Dan lain-lain informasi terkini yang semua itu sangat berkaitan dengan pengambilan keputusan di perusahaannya.
Kekonyolan memang agak sedikit terjadi jika kita memerlukan hape yang sebetulnya hanya untuk komunikasi telepon dan SMS, tetapi kita memaksa diri membeli hape yang paling baru dan canggih. Akibatnya yang terjadi adalah fitur-fitur yang menopang kebutuhan canggih tidak digunakan dan tersia-sia, atau bisa juga karena memang kita malas/tidak dapat mengoperasikannya. Kedua kartunis ini dengan cukup tajam dan jenaka menelanjangi kekonyolan kita semua yang mudah terjebak oleh permainan iklan dan promosi.

Diuber Habis
Kekonyolan-kekonyolan lain juga dapat dilihat dari tiap bab: dari persoalan masalah handset, operator, pulsa, SMS, perilaku pengguna hingga fitur yang ada di tiap hape. Semua diuber habis oleh kedua kartunis ini dengan sedetil-detilnya. Masalah handset misalnya; khususnya yang sudah lama tapi masih dapat dioperasikan; dijual tidak laku, dibuang sayang. Maka jalan keluarnya adalah membeli casing baru. Ya, dengan hanya mengeluarkan Rp20 ribu, hape tampak bersinar lagi.
Fungsi handsfree, misalnya. Namanya saja hands yang free. Alat itu dimaksudkan agar pengguna hape dapat berhaperia dengan tangan bebas dari tugas memegang handset, khususnya saat lagi nyetir mobil agar tak terganggu. Tetapi pada kenyataannya, ada juga yang sudah menggunakan handsfree tapi tangan kanan masih pegang handset, tangan kiri pegang kabel. Handsfree juga sangat tepat digunakan saat situasi lagi gaduh sehingga dapat bebas dari noise, sehingga kita dapat mendengar suara lawan bicara lebih jelas. Lalu apa pula artinya bila si pengguna sudah pake bluetooth handsfree, tetapi tangan si pengguna juga masih gerayangan pegang telinga pegang handeset? So begitulah.
Kisah tentang SMS juga tak kalah hebohnya. Begitu hebohnya kasus SMS, khususnya bagi yang punya pasangan. Baik itu yang masih pacaran maupun yang sudah suami istri. Semua menjadi cermin bagi tingkah laku kita semua. Kisah-kisah yang menegangkan karena kesalahpahaman atau karena memang salah satu selingkuh betulan, ikut menjadi bumbu penyedap bagi mereka yang hidup berpasangan; kisah perang dingin yang lama dan tak tercairkan dan kemudian berakhir dengan perpisahan juga cukup banyak terjadi di masyarakat. Begitu gawatnya persoalan SMS sampai akhirnya keluar lagu berjudul serupa dan populernya bukan main. Benny dan Misrad membidik persoalan SMS dari kaca mata yang menggelikan; itu tergambar ketika lagi enak-enak tidur, si istri mendengar hape suaminya berbunyi di tengah malam buta: ada SMS masuk. Iseng-iseng ditengok, eh tertulis: halo sayang, udah bobo belum? Tentu bisa dibayangkan seperti apa reaksi si istri yang bertubuh gembrot dan cinta banget sama suaminya itu.


Membuka Kesadaran
Tanpa diduga, di antara berlimpahnya slengekan dan guyonan ala Benny dan Mice yang genuine dan mengalir, ternyata ada juga guyonan mereka yang tampaknya santai dan tanpa ekspresi menggebu namun sesungguhnya mengandung “penyadaran” atau sebutlah pencerahan bagi pengguna hape atau pembaca secara umum. Ini serius. Keduanya mengkritisi praktik bisnis SMS yang iklannya kerap muncul di TV.
Pada topik “SMS Ramalan” halaman 59 tampak sesosok figure di TV yang berkata, “Ketik REG spasi Ramalan, kirim ke 2345…Nasib Anda dapat saya baca dari nomor hape Anda…” Lalu Benny nyeletuk, “He he he, kacau nih orang!” langsung disusul komentar Mice, “Lebih kacau lagi yang ngirim SMS!”
Pada halaman 53, bagian dari topik “SMS Dini Hari” tampak sesosok gadis seksi di layar TV, “Eeemmhhh….Ayo doooong….kamu kirim SMS lagi 3 kaliiii aja….Kutunggu yaaa,,,,waktunya aku tambah 1 menit deeeh…Hadiahnya handphone dan uang 5 juta loooh….” Lalu Mice berkomentar, “Orang bego mah, ngirim SMS dan buang-buang pulsa buat ngikutin kuis ginian…” tak lama kemudian disusul komentar Benny, “Orang pintar…minum tolak angin sambil nonton presenternya aja…he-he-he!”
Dan yang agak “menggelikan” karena sama sekali tidak logis tampak pada topik “SMS Idola” di halaman 49. Di sebuah layar TV terlihat sesosok artis cantik, “Ketik REG spasi Namaku…kirim ke 9009…SMS yang kamu terima dari hapeku lho…” Komentar kritis segera meluncur dari mulut Benny, “Iya deh, dari hape lu!! Hape lu ada 10. Yang megang orang laen. Jadi SMS-nya dari orang laen, dong!” Disusul komentar Mice yang sangat pas dan telak, “Emangnya lo gak shooting?! Kurang kerjaan amat balesin SMS orang?! He he he…!!!”
Sikap kritis namun tetap komis (baca: komedis, santai dan lucu) seperti ini memang perlu agak diperbanyak. Seandainya kedua kartunis juga mengkritisi praktik penipuan lewat hape dengan iming-iming hadiah barang (mobil) atau pulsa jutaan rupiah dengan berbagai modusnya yang terus berubah dan beberapa di antaranya bahkan bisa muncul menggunakan symbol operator, tentu percaturan tentang hape akan lebih seru.
Makin tambah seru lagi bila sikap kritis itu juga ditujukan kepada institusi yang getol mewajibkan registrasi bagi pengguna nomor perdana, yang ternyata hanya jadi ritual regulative belaka. Pemilik nomor dapat menggunakan identitas siapa apa saja. Toh kenyataannya tak ada crossing check tentang kebenaran atau ketidakbenaran data dalam registrasi.
Penyalahguna nomor dapat meloloskan diri dari konsekuensi hukum yang menjeratnya. Lalu apa maksud diadakannya registrasi itu? Bila tiap operator memilik database pemilik nomor, mengapa orang-orang yang sudah berusaha 50 tahun ke atas masih mendapat kiriman SMS promo yang sebenarnya lebih cocok bagi kaum muda? Lebih konyolnya lagi, tanpa setahu si pemilik, mereka juga sering mendapat i-ring gratis lagu-lagu yang sama sekali tidak match dengan usia/selera si pemilik hape.
Talk about Hape tampaknya perlu disiapkan edisi lanjutannya….!


Darminto M. Sudarmo, penulis, peminat dan pemerhati humor.

1 comments:

  1. Permisi numpang promosi :)
    Kartun Benny & Mice: Jakarta Atas Bawah segera terbit pada pertengahan September!
    Informasi dan pemesanan bisa dilihat di www.nalar.co.id

    ReplyDelete