Sunday, December 07, 2008

Catatan Akhir Dekade, Kolom, Esai, Artikel, Opini Seorang Humoris

Menyimak kolom-kolom Art Buchwald, kita mendapatkan tulisan yang ringkas-tangkas -pedas kadang nakal kadang lucu tentang berbagai persoalan aktual. Namanya kolom kontekstual. Kolom yang terkait dengan peristiwa dan berita yang lagi jadi pembicaraan orang banyak. Berbeda dengan sebagian besar karya Simon Carmiggelt (nama pena: Kronkel). Kolomnis asal Belanda ini, kendati menulis kolom tetap berpijak dari basic-nya sebagai pengarang. Sehingga karya-karya kolomnya banyak yang bernuansa universal. Masih dapat dinikmati pada ruang dan waktu yang berjarak dari saat ditulis. Ibarat kata seperti cerpen, lebih pendek lagi; seperti joke atau anekdot, lebih panjang lagi.
Menikmati kolom karya MAW Brouwer, kita seperti dijerat ke dalam teka-teki pengembaraan dan piknik literatur penulisnya yang selalu membaca buku baru. Yang sesekali mengutip-kutip dan menjadikan kutipan itu sebagai landasan visi atau gagasan penulisnya. Atau setidaknya, sebagai sebuah asumsi, penulis tidak sembarangan asal cuap; ada peneliti sosial atau orang serius yang telah melakukan pengkajian tentang hal tersebut. Situasi membaca semacam itu juga didapati oleh sebagian pembaca saat menyimak kolom (Catatan Pinggir)-nya Goenawan Mohamad. Bukan saja GM melakukan wisata literatur yang bukan main jauhnya, ia juga melakukan wisata fisik, dan wisata ide yang kadang cukup mengejutkan. Di sinilah, di dalam kejutan-kejutan inilah kita dapati rasa humor penulisnya. Rasa yang sama sekali berbeda saat kita membaca tulisan yang memiliki ide bagus namun disajikan secara kering dan tanpa sentuhan rasa intelektual.
Menikmati kolom tulisan Emha Ainun Nadjib beda lagi. Kalau yang dikisahkan tentang drama rumah tangga, kita mendapatkan suasana yang sangat dramatis. Kalau yang diceritakan orang yang sedang berdebat, maka kata-kata yang muncul sungguh menyengat-nyengat. Di sinilah keunikan menyimak tulisan Emha, sangat nikmat, sangat lezat. Alur tulisannya mengalir rapi-runtut. Ibarat orang menyanyi atau pidato, artikulasinya enak didengar. Ceritanya mungkin tentang seorang penipu yang kena tipu, tetapi di tangan Emha, suasana menjadi sangat kaya tekstur dan daya pikat. Kita enggan berhenti, sampai titik huruf paling akhir.
Di lain waktu kita berkesempatan membaca tulisan H. Mahbub Djunaidi, yang bersumpah tidak akan berhenti menulis hingga ajal menjemput; karena Pak Haji ini seorang jurnalis (eh, dia lebih suka disebut sebagai sastrawan ketimbang politikus), maka sentuhan dan keunikan dari kolomnya juga beda; yakni kaya data atau detail. Deskripsinya ruaaarrr biasa. Laporan pandangan matanya juga “ampun”, deh. Ueeenak tenan. Ibarat kata, Pak Haji ini menyelam ke dalam lautan atau masuk ke liang semut, saat kita membaca tulisannya, kita seperti ikut dengannya. Di kemudian hari, pada saat lain kita membaca tulisan Harry Roesli, si Akang badung dari Bandung ini. Pasti terkaget-kaget kita dibuatnya. Kata-katanya langsung, tanpa tedeng aling-aling. Tidak suka muter-muter, lugas, kadang juga ganas, tetapi soal ide-idenya jangan tanya. Semakin gila semakin dia suka. Jangan harap ada SMS gila berseliweran di HP-nya, pasti langsung dia tangkap dan dijadikan bahan tulisan.
Jauh sebelum eranya Kang Harry, ada era yang menjadi milik humoris dan humorolog Arwah Setiawan. Lelucon-lelucon Arwah banyak yang bikin “pegel” hati. Karena jauh sekali dari frame orang waras. Istilah sekarang, Arwah banyak menggunakan kiat atau jurus plesetan; tetapi plesetan tidak sembarang pleseta, melainkan plesetan logika. Misalnya dia sesumbar sanggup menulis kolom hanya kurang dari satu detik. Ini sungguh bikin berang para penulis serius yang biasanya bikin lead saja, stresnya sudah kayak ayam mau bertelur; lha kok berani-beraninya dia nyombong bikin kolom kurang dari satu detik; ternyata setelah kita tantang, dia mengambil kertas dan spidol, lalu menulis huruf-huruf: k o l o m, maka jadilah tulisan kolom itu. Apa ini bukan semprul?
Tulisan-tulisan karya Parakitri T. Simbolon, Romo Sindhu (Sindhunata), Jacob Soemardjo, Arief Budiman, Ariel Heryanto, Suka Hardjana, Remy Sylado, Rocky Gerung, dan banyak lagi orang-orang cerdas yang menyimpan energi humor cukup besar, akan makin lengkap kalau mereka ditemukan dengan Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid), Gus Mus (KH Mustofa Bisri) dan Jaya Suprana. Dan kekuatan energi budaya berupa rasa humor yang menyelinap ke dalam otak orang seperti Wimar Witoelar, makin menggila ketika dia harus diseret ke gelanggang untuk “bertarung” dengan Jaya Suprana dan dimoderatori pelawak Dono dari Warkop DKI. Debat keduanya yang pernah diujicobakan di sebuah sesi, memang tidak sedang menulis kolom, tetapi secara tersurat, mereka sebenarnya juga sedang menulis namun tidak dengan huruf melainkan dengan bunyi, lewat mulut dan gerak tubuh. Peristiwa itu pernah sengaja diadakan ketika ulang tahun Majalah HumOr di Hotel Indonesia, Jakarta, tahun 1995. Meriah banget dan ger-geran!
Pada kisaran tahun 1990-1992-an, pembaca pernah dikejutkan oleh tulisan seorang penulis kolom yang sebelumnya kurang dikenal namun sekalinya muncul di Majalah Tempo. Gaya tulisannya naif, sederhana namun menyimpan gagasan-gagasan yang selalu mengejutkan. Penulis yang tenang dan pendiam seperti gunung itu tiada lain selain Mohamad Sobary. Foto yang menyertai artikelnya pun tampaknya seperti memakai baju anak seragam sekaolah. Tetapi gunungnya Sobary ternyata di dalamnya menyimpan magma kreativitas yang tak kunjung kering ditambang. Hanya belakangan gaya tulisan Sobary tidak lagi mengingatkan kita pada pelabuhan alam atau pemandangan sawah yang asri di Bantul, Yogyakarta; kita sudah melihat Sobary yang sangat pintar, yang orang tidak berani lagi memanggil “Pak Lik” tetapi “Oom”; tidak berani memanggil “Kang” tetapi “Mas” atau “Abang”.
Itulah sekelumit kenangan tentang para penulis kolom atau artikel atau opini atau esai yang menyimpan rasa humor di kedalaman instrinsiknya; yang tulisan-tulisannya cukup menggelitik perasaan intelektual pembacanya (ya, minimal saya); yang pura-puranya dijuduli “evaluasi” agar tampak kompak memberi isi pada ujung tahun 2008 ini. Sebagai kenangan pula di bawah akan diposting tulisan saya dengan nama samaran Atin Supriyatin berjudul “Kontemplasi Kolom” yang pernah dimuat di KOMPAS, pada Selasa, 17 Mei 1994.

Catatan: Nama-nama Art Buchwald, Simon Carmiggelt, MAW Brouwer, Mahbub Djunaidi, Arwah Setiawan, Dono Warkop dan Harry Roesli sudah almarhum, namun karya-karya mereka tetap dapat dinikmati dan hidup sepanjang masa.

0 comments:

Post a Comment